Sejarah Copy Paste


copy paste

Sejarah copy paste…
Istilah paste dekat sekali dengan Pasta. Sejenis pasta tertentu dipakai oleh para publisher kuno untuk mengedit bacaan sebelum diterbitkan. Caranya dengan menggunting, lalu menempulkannya pada bagian lain. Untuk melekatkannya, mereka menggunakan media pasta. Tidak hanya jenis pastanya yang unik, tapi juga jenis guntingnya. Mulut gunting yang dipakai panjangnya ada yang sampai 8,5 inchi.

Di era komputer…
Semenjak komputer mulai populer, gunting dan pasta ini mulai ditinggalkan. Namun tidak langsung mudah seperti sekarang ini. Di era 60-an, sederet command panjang harus diketik untuk mengkopi lalu mengkopi sebuah tulisan lali mempaste di tempat tertentu. Sedikit perubahan di era 1974-1975, seorang karyawan Xerox bernama Lawrence G. Tesler menemukan cara kopi paste yang lebih sederhana. Disusul kemudian oleh Apple (1981) yang mulai memunculkan penggunaan tombol ctrl C untuk mengkopy, ctrl X untuk Cut , dan ctrl V untuk mempaste. Teknologi tersebut semakin lengkap dengan munculnya ctrl Z untuk pembatalan (undo). Windows pun mengadopsi teknologi hasil temuan Apple tersebut. Maka jadilah proses kopi paste menjadi sangat mudah seperti yang hadir di depan meja Anda sekarang ini.

Copy paste dan target cepat…
Ingin mencapai target secepat mungkin, tanpa peduli proses yang dijalani itu haram atau harum. Maka terjadilah kejahatan copy paste. Aneka gelar didapatkan dengan cepat. Pada usia muda sudah berderet tittle, setumpuk uang, dan pasti mereka berkuasa. Selalu duduk di deretan paling depan  di berbagai pertemuan. Mereka terkenal namun hatinya cemar. Membenarkan energi jahat meranggas dan menampar suara hati. Ada beberapa contoh kejahatan copy paste.

Apa saja itu….
Dari hasil survey yang dirilis oleh koran The Chronicle of Higher Education edisi 20 Januari 2009: 49 persen dari 1.014 mahasiswa universitas Cambridge yang tersohor, terlibat penjiplakan.  Di Indonesia masih belum disurvey, namun sudah muncul beberapa kasus, seperti seorang guru besar Universitas Parahyangan dalam tulisannya berjudul  “RI as a New Middle Power “ (Jakarta Post 4/2/2010) ternyata produk copy paste salah satu jurnal di Australia bertitel “Middle Power: Concept in Australian Foreign Policy”.   Pada tahun 2000, hal serupa terjadi pada disertasi salah seorang dosen UGM.  Delapan puluh persen isi disertasinya copy paste seorang peneliti LIPI.  Baru ketahuan beberapa tahun setelah disertasi itu diterbitkan sebagai buku.

Dilema dan solusi copy paste
Copy paste semakin hari semakin dimaklumi.  Soal keaslian semakin sulit dicari. Apalagi untuk yang karya tulis, atau karya digital berbahasa Indonesia. Untuk yang berbahasa Inggris lebih mudah. Disamping data base sudah ada, software anti plagiarism pun bisa di download  free. Cara yang paling sederhana adalah dengan mempaste sebaris kalimat ke google search. Upaya ini masih belum absolut.  Sebab situs teratas belum tentu situs pemilik kalimat tersebut. Bisa jadi, Anda kalah dulu dalam meng-copy paste.  Solusi terbaik, tetap bukan pada media namun pada sikap mental. Hilangkan orientasi melulu hasil, dan metalitas menerabas. Apapun bentuk prosesnya, jika itu dijalankan demi keaslian pastilah bernilai.

, , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: